5 Kantong Darah Berharga untuk Si Anak Anemia

23.34

          Setelah 3 bulan belakangan, penyakit ini kambuh, orangtua kembali memaksa saya untuk pergi ke dokter lagi. Sebelumnya saya menolak, dengan alasan ‘palingan dokternya suruh kurusin badan lagi’. Memang sih saya agak berisi, kendati demikian, jika disandingkan bersama Raisa masih sebelas-duabelaslah, masih susah dibedain. Namun, karena penyakit saya kambuh ga kenal situasi, saya pun mengalah dan memutuskan ke dokter lagi ditemani ayah saya.
          “Nah kan, kamu belum kurus-kurus sih dari terakhir ke saya. Kapan coba?” sembari melihat catatan kunjungan saya. “2 tahun yang lalu ternyata kamu terakhir ke praktek saya,”
Si pasien cuma masang muka senyam-senyum ga jelas, berharap pemeriksaan segera dilakukan dan buru-buru keluar dari ruangan putih 4x3 meter tersebut. Akhirnya setelah menyuruh saya menimbang berat badan, saya pun diperiksa lebih lanjut dengan peralatan dokternya.
          “Waduh, sudah parah ini penyakitnya. 2 tahun lalu kayanya sudah mau baikan, tapi kenapa sekarang progressnya jadi 2 kali lipat begini? Obat yang dulu ada diminum?” Saya mengangguk. “Pasti makanannya nih yang kurang dikontrol.” Dokternya pun langsung nyerocos, mengulang apa yang sudah sangat saya hafal, segala jenis makanan (enak lagi berlemak, berkolesterol dan kawan-kawannya) yang harus saya hindari.
          “Obatnya kita ganti ya, untuk 3 bulan. Boleh dibeli satu-satu, gapapa ga sekalian,” instruksi sang dokter tersebut pun mengakhiri temu ramah beliau dengan saya sebagai pasiennya.
Pada akhirnya, saya kembali mengkonsumsi obat diakibatkan sakitnya kambuh. 3 minggu lamanya saya masih konsisten mengkonsumsi obat tersebut, tetapi tidak ada perubahan yang saya rasakan kecuali nafsu makan semakin meningkat. Antara bawaan obat atau bawaan badan yang ga tau ukuran lagi. Menyebabkan ibu saya semakin khawatir, karena saya tak kunjung sembuh. Orangtua pun memutuskan untuk membawa kembali saya ke dokter. Bukan dokter sebelumnya, tetapi mencoba ke dokter lainnya yang memang merupakan rekomendasi dari orang-orang terdekat orangtua. Saya saja heran. Saya yang satu lingkungan sama kampus tempat dokter-dokter tersebut mengajar, kenapa orangtua yang lebih bagus koneksinya? lol.
          Karena saya sudah berganti dokter, jadi saya memutuskan untuk tidak mengkonsumsi lagi obat-obatan dari dokter sebelumnya. Dokter yang baru ini memberi obat-obatan yang sebelumnya juga sudah pernah saya konsumsi, untuk 10 hari. Nantinya saya diberi waktu, dan kemudian saya harus mengunjungi praktek beliau lagi. 10 hari pun berlalu, ga begitu cepat, dan juga ga lambat. Obat habis dan saya hanya bisa menunggu beberapa hari lagi untuk kemudian kembali membuat janji dengan beliau.

Jarum dan tusukan pertama
          Sayangnya, baru 2 hari berlalu, tepat pada Bulan Ramadan hari pertama sakit saya kambuh kembali. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sakit saya kambuh disertai muntah-muntah dan diare. Saya lemas luar biasa. Saya sedang tidak puasa karena lagi masanya. Sakit kambuh, muntah, diare dan pas pula menstruasi sedang banjir-banjirnya. Komplit! Saya tak berdaya terkapar dilantai kamar, mencoba menelepon orangtua yang sedang pergi ke pasar. Sesuai dugaan, ibu (terdengar) panik diseberang dan 15 menit kemudian orangtua pun tergopoh-gopoh mencari saya setibanya di rumah.
          “Ganti baju terus sekarang, kita ke Rumah Sakit,” ujar ayah dan ibu bersamaan.
          Ciee, kompakan cie. Eh? Apa? Ke Rumah sakit? Alah, malas kali lah, gerutu saya dalam hati saja. Kalau diutarakan, khawatir puasa ibu akan batal, karena akan meledak mendengar saya berujar demikian. Walaupun lemas, saya masih bisa berpakaian lengkap sebelum akhirnya orangtua mengantar saya ke UGD sebuah rumah Sakit di Kota (yang katanya) Madani ini. Saya pun tidur di kasur yang telah disediakan. Punggung tangan sebelah kiri sudah ready buat dicolok jarum. Konon, wajah saya juga bikin yang jaga UGD panik. Kayak mayat hidup kali ya. Setelah mendengar kronologis pucatnya saya di hari pertama Bulan Ramadan, dokter jaganya curiga, sehingga salah satu petugas kesehatan dari sebuah klinik kesehatan minta izin buat ambil darah saya, untuk pengecekan. Hasilnya hemoglobin (Hb) saya waktu itu sekitar 5,2. Jreng, jreng, jreng. Masih segitu kok, tapi kenapa saya langsung knock out (K.O) gini ya? Biasanya juga masih bebas melanglang buana ke kota sebelah. *minta dikeplak*. Pasti dipicu muntare tadi nih. Muntah-mutah, diare. Oleh dokter jaga pun, orangtua saya ditanya apa mau ditransfusi atau gimana? Yang akhirnya orangtua setuju untuk dilakukan transfusi. Mengenai jumlah kantong darah dokter jaga akan menghubungi dokter yang menangani saya sebelumnya (yang sudah mengresepkan obat untuk 10 hari. Ingat?). Kemudian, dikabarkan dokter tersebut menyarankan untuk mentransfusi 5 kantong darah. Wow, banyak ya.
Aplikasi kece, powered by PMI Kota Banda Aceh
          Saya kemudian teringat momen-momen dimana banyak broadcast di berbagai aplikasi pesan berisikan si fulan butuh darah 0+ sekian kantong, fulanah butuh darah AB+ sekian kantong dan banyak lainnya, yang mana pesan-pesan tadi masuk dengan jeda waktu yang berdekatan. Saya pun kepikiran, apa saat ini Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Kota punya stok darah sesuai golongan darah saya ya mengingat yang butuh darah biasanya banyak. Saya pun diberi tahu oleh petugas kesehatan di RS bahwa PMI Kota telah meluncurkan sebuah aplikasi keren dimana kita bisa cek langsung stok darah yang ada di PMI lewat fitur stok darah di aplikasi ‘Rumoh Pendonor’. Petugas administrasi RS pun memberi tahu ayah saya untuk segera mengurus administrasi saya agar saya bisa mendapat kamar dan segera ditransfusi. Untuk stok darahnya, mereka mengatakan tidak usah khawatir karena setelah di cek, stok darah dengan golongan darah saya tersedia dan cukup jumlahnya. Dan kemudian, “Jamaahhh, Alhamdu...lillah.”
Stok Darah; Salah satu fitur Rumoh Pendonor
          Sempat terlintas dipikiran jika stok darah tidak ada, akankah nama saya dan penyakit serta tempat saya dirawat akan beredar dalam broadcast-broadcast seperti yang sudah saya terima sebelumnya? Aduh, kok ga keren jadinya. *plak*. Iya ga sih, kan dimana-mana yang ngedonor yang keren. *tsah* Eh tapi bukan berarti sebelumnya saya juga rutin ngedonor ya. *plak lagi* Saya baru pernah donor sekali. 8 januari beberapa tahun silam. Bukan takut jarum, ataupun pelit darah, tapi karena Hb yang hampir selalu dibawah normal. Jadi begitu Hb saya pernah mencapai 13 sekian, saya pun langsung donor. Lebih tepatnya sih, ga sengaja mampir ke acara donor darah, dan oleh petugasnya diminta cek Hb kali aja bisa donor dan voila, Hb saya ternyata cukup. *awkward moment kali itu rasanya* Tapi saya senang juga akhirnya bisa donor, dan berharap semoga darah saya bisa terpakai buat mereka yang membutuhkan.
          Jujur ya, bagi saya mereka, para relawan yang mendonorkan darahnya, dan rutin pula, itu keren pake banget. Mereka mau berbagi darah mereka untuk orang-orang yang bisa jadi mereka ga kenal, mau melawan rasa takut akan jarum donor yang ga nyantai banget, dan tentunya mau meluangkan waktu untuk ke PMI atau stand-stand donor darah yang dibuka PMI pada beberapa kegiatan warga. Memang, bagus sih untuk tubuh si pendonor. Bagusnya lagi, darah yang mereka donorkan itu bisa menyelamatkan berbagai nyawa. Jadi, pendonor juga dapat pahala kan ya? Tapi konyol juga, saat saya mengetahui seseorang yang saya kenal, pria, tapi takut untuk mendonorkan darahnya. Pertama takut akan sakit akibat tusukan jarumnya, kedua ia takut jarum yang digunakan tidak steril dan terindikasi penyakit berbahaya. Errrr. Sementara yang saya perhatikan, semakin hari PMI semakin canggih peralatan yang mereka miliki, berikut sistemnya. Ayah saya mengaku, bahwa ketika mengambil kantong darah yang saya perlukan, agak sedikit lama, padahal antrinya tak seberapa. Ternyata hal tersebut disebabkan, darah yang diperlukan oleh pasien benar-benar prosesnya dilakukan dengan teliti sedemikian rupa, diperhatikan secara seksama golongan darah berikut rhesus yang diminta sebelum kantong darah berada di pihak penjemput. Proses ini diharapkan dapat meminimalisir efek yang akan ditimbulkan oleh proses transfusi seperti gatal-gatal, demam, sesak pada bagian paru-paru dan sebagainya. Saya, sebagai yang pernah menggunakan layanan PMI, percaya bahwa PMI akan terus memberikan kontribusi terbaiknya karena memang masyarakat membutuhkan PMI. Masyarakat melakukan donor, beberapa lainnya memerlukan stok darah, dan PMI perantaranya.
Blood refill :')
          Kembali dengan saya, si anak anemia, kantong pertama pun dimulai hari itu juga, sekitar pukul 12 siang. Ya, itu makan siang saya. Saya benar-benar harus menjaga jarum di punggung tangan saya agar tidak berubah posisi, karena ditusuk ulang itu sakit, belum lagi vena saya yang sedikit misteri keberadaannya, jadi kalaupun saya sesak pipis akibat kebanyakan infus, saya harus menahan sebentar sampai darah di kantong habis, daripada selesai dari toilet ternyata darahnya macet, tusuk ulang, lama nyari si vena, dan darahnya keburu beku, jadi mubazir kaaan? Wkwkwk. Anyway, saya bersyukur, stok darah memang sudah tersedia, hanya perlu diambil, dan saya berterima kasih kepada yang punya darah, semoga Allah membalas kebaikan yang darahnya sudah saya konsumsi ini. Hari pertama masuk RS, Hb di angka 5,2 dan di hari ketiga, setelah mengkonsumsi 5 kantong, sudah 9,9. "Jamaahhh, alhamdu...lillah :’)
Terima kasih PMI. Goodie bag buat naruh kantong darah. Bagus yah? :D



Tulisan Terkait Lainnya

1 komentar

  1. waah..kalau anemia bisa segitu parahnya yaa.. cepat sembuh ya..
    aku hb 10 aja udh merepet2 karna ga bisa donor darah heheh

    salam kenal

    BalasHapus

Popular Posts

@risaarp